Selancar Sungai (Riverboarding)

Selancar Sungai (Riverboarding)

 

Kegiatan selancar sungai mirip belajar naik sepeda, mengatur keseimbangan, bagaimana membelok, dan sebagainya. Lebih mudah langsung dicoba daripada diuraikan teorinya. Jadi, tidak usah melanjutkan membaca artikel ini kalau hanya ingin tahu cara memainkannya. Tapi, apa sebenarnya selancar sungai itu? Ada teman yang menggambarkannya sebagai bersepeda downhill tanpa rem. Well, tidak sepenuhnya begitu. Berselancar di atas (atau kadang di bawah) sebilah papan mengarungi arus, menembus jeram, ada seninya. Makin dikuasai makin dapat kita kendalikan, kita lambatkan atau percepat, meliuk seperti pemain skateboard, bahkan diajak berakrobat seperti BMX.

 

 

Sejarah Selancar Sungai (river boarding)

Riverboarding lahir pada tahun 1970an. Awalnya muncul dari kebosanan sekelompok pemandu rafting di Perancis. Mereka menginginkan berenang di sungai dengan cara yang lebih menarik, lebih menantang. Maka orang-orang yang sudah sangat akrab dengan karakter sungai itu mengikat beberapa jaket pelampung menjadi satu, lalu terjun. Ya, sesederhana itulah cikal bakal lahirnya riverboard. Harus diakui, orang Perancis memang paling kreatif menciptakan tantangan yang tak terbayangkan sebelumnya.

Salah satu faktor tantangan dalam kegiatan yang juga dikenal dengan sebutan hydrospeed ini adalah kecepatan. Pada bagian arus yang sangat deras, kecepatan peselancar bisa melebihi 30 km per jam. Sama sekali tidak cepat jika dibandingkan kebut-kebutan dengan sepeda motor. Namun, tantangan lainnya adalah hubungan langsung antara pelaku dengan sungai. it's just between you and the river , begitu semboyan para pecintanya. Papan selancar modern yang umumnya terbuat dari karet busa itu berketebalan 8-12 cm. Di air sungai yang bergolak, terkadang papan setebal itu tidak berarti apa-apa. Dengan perahu karet atau kayak, kita seringkali ditelan jeram. Dengan riverboard, hampir sepanjang waktu kita berada sejajar dengan permukaan air. Sisanya, sebentar terbenam sebentar terlempar ke udara. Itu sebabnya ada situs internet tentang selancar sungai memasang judul Face Level (www.facelevel.com).


Tak lama berselang, orang-orang Perancis pencetus riverboarding ini mengganti pelampung yang awalnya sekadar diikat dengan karet busa. Bentuknya pun terus dikembangkan, hingga mencapai bentuk dasar papan selancar sungai yang dikenal sekarang.


Kini, riverboarding sudah menyebar luas di Eropa, Amerika dan Australia serta Selandia Baru. Namun kata Robert Carlson, salah satu tokoh riverboarding modern, sebenarnya kegiatan hydrospeed sudah ada sejak zaman prasejarah! Bagaimana bisa? Menurut Carlson, siapa pun yang melompat masuk ke sungai dengan alat pengapung apa pun, lalu berselancar mengikuti arus, dapat dikategorikan sebagai peselancar sungai. Misalnya, ada kelompok-kelompok manusia purba yang memanfaatkan pohon tumbang atau balok kayu sebagai alat transportasi. Sampai sekarang pun kegiatan semacam itu tetap ada. Contoh, coba main ke desa-desa dekat sungai. Anak-anak usia SD dengan santai berceburan di sungai deras acapkali hanya dengan batang pisang atau bambu. Seolah jaman prasejarah masih berlangsung.


Kenapa riverboarding sangat terlambat masuk Indonesia? Rasanya bukan hanya soal harga, walaupun harga riverboard di internet rata-rata di atas 3 juta kalau dirupiahkan. Mungkin yang lebih berperan adalah lambatnya arus informasi. Sekarang, dengan mudahnya kita bisa berselancar di internet, mudah-mudahan arus informasi jadi sekencang arus sungai sehabis hujan di hulu, sehingga kita di Indonesia segera dapat menyelancari sungai-sungai kita yang tak terhitung potensi dan tantangannya, bahkan berpartisipasi dalam lomba-lomba hydrospeed yang sudah banyak digelar di mancanegara.

 

Perlengkapan Selancar Sungai (river boarding)

Kalau carrier dan sepatu trekking adalah perlengkapan dasar dalam mendaki gunung, maka perlengkapan dasar riverboarding tentunya riverboard. Setelah itu ada perlengkapan keselamatan, yaitu pelampung, helm, serta pelindung lutut dan tulang kering. Selain itu, ada sepatu katak sebagai perlengkapan pembantu.

 

Papan selancar sungai

Ada dua jenis bahan yang biasa digunakan untuk membuat riverboard modern, yaitu karet busa dan campuran plastik tahan bentur. Yang paling banyak dikembangkan adalah papan busa, karena lebih tahan benturan. Papan plastik berongga umumnya digunakan di sungai-sungai yang tidak banyak batu atau lebih dalam. Bobotnya ringan, sekitar 7 kg. Dapat dibuat dengan bentuk yang aerodynamic, sehingga sering dipakai untuk lomba kecepatan dan slalom. Sedangkan papan karet busa beratnya antara 7-15 kg. Ada bentuk-bentuk khusus racing, free style, boogie, rescue.

 

Pelampung
Walau anak-anak desa biasa bermain di sungai yang cukup deras hanya bercelana kolor, pelampung tetap syarat mutlak dalam riverboarding. Pertama, karena kita tak seakrab mereka dengan karakter sungai. Andai pun ketrampilan renang kita sehebat para bolang itu, azas mengutamakan keselamatan jangan ditawar jika kita ingin melakukan kegiatan secara bertanggungjawab. Kedua, bukan rahasia lagi para pelaku kegiatan di alam terbuka umumnya makin terangsang jika risikonya makin besar. Jeram-jeram kecil, yang mungkin masih cukup aman diarungi tanpa pelampung oleh perenang ulung, dengan segera menjadi kurang menantang jika kita bersenjatakan papan selancar. Tanpa sadar kita akan melampaui batas dalam rangka mencari jeram yang lebih berat. Jadi, biasakanlah sejak awal untuk memakai pelampung.


Pelampung yang tepat untuk kegiatan ini adalah pelampung sungai yang biasa dipakai ber-kayak. Berbeda dengan pelampung untuk rafting, pelampung kayak dikenakan seperti kita mengenakan kaos oblong, atau dengan restleting di depan, webbing pengetat ada di kedua sisi.

 

Helm sungai

Sama dengan pelampung, helm mutlak untuk keselamatan. Helm yang biasa dipakai untuk rafting cukup memadai. Namun seiring dengan naiknya tingkat kesulitan sungai yang kita pilih, pertimbangkanlah helm khusus, yang batoknya menutup telinga dan berfungsi melindungi bagian sisi kepala. Helm khusus selancar sungai juga mempunyai pelindung mata seperti helm motor, hal ini untuk menghindarkan mata kita dari cipratan air yang bisa memedihkan kalau kita tabrak dalam kecepatan tinggi. Jika menggunakan helm ini, kita bisa memasuki jeram besar dengan mata terbuka lebar.

 

Pelindung lutut dan tulang kering

Seperti juga helm, ada pelindung lutut dan tulang kering yang dirancang khusus untuk berselancar sungai. Tapi cukup aman bila digantikan dengan pelindung softball. Pelindung khusus memiliki tempurung pelindung lutut, menyatu dengan bahan yang lebih empuk untuk pelindung tulang kering.

 

Sepatu katak

Berbeda dengan pelampung, helm dan pelindung kaki, yang merupakan syarat keselamatan, sepatu katak atau swimming fin memudahkan kita melakukan manuver. Tanpa fin kita mungkin hanya hanyut terbawa arus. Sepatu katak bisa tidak digunakan jika kita hanya ingin bersenang-senang di arus yang tidak terlampau deras. Fin yang kita pilih tidak perlu yang berkualitas top, cukup yang kelas menengah saja, dengan harga sekitar seratus ribu rupiah lebih. Fin untuk selancar sungai bentuknya pendek dan agak kaku. Fin dapat membantu kita melaju lebih cepat dari arus sungai, sehingga mampu menghindari pusaran yang tak ingin kita lalui, atau justru berpacu memasuki jeram yang menantang.

 

Perlengkapan lain

Beberapa perlengkapan lain dapat meningkatkan kenikmatan kita dalam berselancar sungai. Sarung tangan motor dapat mengurangi risiko telapak tangan lecet terkena pegangan papan selancar. Kacamata renang, jika kita tidak menggunakan helm khusus yang berpelindung mata, akan membuat kita lebih tahan lama di air tanpa mata menjadi merah. Bagi yang berkacamata minus, dapat membeli kacamata renang dengan lensa sesuai dioptri kacamata. Ada juga yang memasukkan pakaian selam (wetsuit) ke dalam daftar ini, karena bisa membantu menghindari lecet jika mengarungi bagian sungai yang dangkal berbatu, juga menambah daya apung (buoyancy), walaupun sedikit menghambat gerakan. Perlengkapan tambahan lainnya adalah kantong air (hydration pack), terutama jika kita berselancar jarak jauh seharian, karena walaupun selalu berendam di air, kekurangan cairan tubuh akan mempermudah otot terserang kram.

 

Pengembangan

Seperti halnya hampir semua kegiatan di alam terbuka, selancar sungai bisa menjadi kegiatan santai hingga bentuk petualangan yang sangat berbahaya. Para petualang riverboarding mengejar tantangan hingga ke sungai-sungai buas di Afrika, antara lain Sungai Zambesi, salah satu Everest-nya arung jeram. Di lain sisi, banyak sungai yang membelah kota di Eropa ramai pada akhir minggu oleh para peselancar, mereka melepas ketegangan syaraf dengan ber-freestyle, atau melepas ketegangan otot dengan ber-jogging di atas riverboard. Sayang, kebanyakan sungai kota di negara kita kurang menarik selera karena harum sampahnya.
Mirip rafting, canoeing dan kayaking, riverboarding juga dikompetisikan dalam beberapa mata lomba. Selain kecepatan, ada halang rintang, slalom, bahkan rally jarak jauh. Dan masih terbuka banyak kemungkinan untuk menggabungkannya dengan jenis kegiatan lain, seperti bersepeda cross country, trail running, panjat tebing, sehingga menjadi multilomba yang kreatif.

Selain sehat fisik dan kuat mental, ketrampilan renang terbukti membantu kita bermanuver dan meminimalkan bahaya atau resiko subyektif, yaitu yang datang dari diri kita sendiri. Tapi, seperti juga pada jenis-jenis kegiatan di alam terbuka yang lain, selalu ada bahaya obyektif, yaitu yang datang dari alam atau medan. Selancar sungai sepenuhnya aman, jika kita mampu membaca karakter sungai dan tanda-tanda alam serta mematuhinya. Setelah mengenal alat di tepian, memfasihkan teknik-teknik di jeram kelas III dan IV, tidak bijaksana langsung terjun ke kelas V tanpa ba-bi-bu. Petualang yang sudah kenyang asam garam sungai tidak menganggap scouting, meninjau bagian sungai yang akan dilalui, sebagai kurang heroik.
Selancar sungai membutuhkan mental yang kuat dan tidak mudah panik. Karena menghadapi jeram, apalagi yang berenteng, dituntut untuk mampu mengambil keputusan dengan sangat cepat. Menghadapi standing wave 3 meter, atau bahkan melompati air terjun kecil, pasti akan memompa kencang adrenalin. Dan mungkin itulah yang menyebabkan kita kembali lagi dan lagi.

 

Selamat mencoba....

 

 

 

 

 

 

Sumber: Eiger Adventure News (EAN) Edisi 47 #Juli-Agustus
 
Sungai Wampu (Class II – III) Sungai Wampu merupakan sungai paling populer untuk arung jeram di provinsi Sumatra Utara.Sungai ini mengalir melintasi dua kabupaten, yaitu Karo dan Langkat sepanjang lebih dari 140 kilometer. Hulunya berada pada dataran tinggi Karo dan bermuara di kawasan Suaka Margasatwa Karang Gading, Langkat Timur Laut.
Sungai Alas (Class III – IV) Sungai ini terletak di dalam TN Gunung Leuser dan mengalir ke arah Aceh Selatan. Sungai ini termasuk sungai yang selalu diimpikan untuk diarungi oleh penggiat arung jeram. Tingkat kesulitan jeram-jeramnya antara III – IV. Ada beberapa trip yang bisa dipilih. Untuk perjalanan satu hari pengarungan dapat dimulai dari Serkil ke Ketambe atau Natam dekat Kutacane. Jika memang tertarik untuk trip panjang, pangarungan dapat dimulai dari Ketambe ke Gelombang, Aceh Selatan.
Sungai Tripa (Class III – IV) Sungai ini juga terdapat di TN Gunung Leuser. Titik awal pengarungan dimulai dari desa Pasir dan berakhir di desa Tongra, Terangun Aceh Tenggara. Muara sungai Tripa berada di Aceh Barat dan mengalir ke Samudera Hindia. Untuk mencapai desa Pasir dapat melalui Blangkejeren melalui jalan-jalan berlumpur.
Sungai Asahan (Class III – V) Sungai ini mengalir dari mulut Danau Toba melewati Kab. Asahan dan berakhir di Teluk Nibung, Selat Malaka. Jeram sungai asahan terkenal liar dan deras. Topografi daerah ini bergelombang membuat jeram-jeram di sungai asahan ini menjadi sangat variatif, berombak tinggi, dan panjang. Titik awal dapat dimulai dari Sampuran Harimau yang terletak di desa Tangga di Kab. Asahan dan titik akhirnya di desa Bandar Pulau. Jeram terbesar dan terganas adalah rabbit hole yang mempunyai grade V.
Sungai Batang Toru (Class III – IV) Sungai Batang Toru terletak di wilayah Tapanuli Selatan berhulu di Danau Toba. Mengalir ke arah Barat daya dan bermuara di Samudera Hindia. Sungai ini dikenal juga dengan nama Aek Sigeon oleh orang-orang Tarutung sampai ke hulu, sedang orang di sekitar Batang Toru ini menyebutnya dengan nama Aek Sarula. Panjang sungai sekitar 125 km.
Way Semangka (Class II – III) Way Semangka terletak di pingir perbatasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Lintasan yang asyik untuk diarungi adalah sepanjang 23 km dengan waktu tempuh antara 5 s/d 7 jam. Pemandangan di sisi sungai sangat menarik terutama di separuh sungai bagian atas. Start dimulai dari desa Tugu Ratu dan finish di Dam Talang Asahan. Untuk mencapai tempat start di Tugu Ratu memakan waktu sekitar 5-6 jam dari Tanjung Karang.
Sungai Citarik (Class III) Sungai ini cukup terkenal di antara para penggemar pengarung jeram. Kondisi airnya cukup jernih dan relatif stabil sepanjang tahun. Lintasan yang cukup asyik untuk diarungi sepanjang 17 km. Start dapat dimulai dari Parakan Telu desa Cigelong atau dari Pajagan, desa Cigelong. Sedang finish di desa Citangkolo, Cikidang atau di desa Cikadu, Pelabuhan Ratu. Total pengarungan sekitar 4 jam. Namun pada umumnya pengarungan dimulai dari Pajagan dan berakhir di desa Cikadu.
Sungai Cicatih (Class III – IV) Terletak di Kab. Sukabumi, sungai cukup lebar antara 25 s/d 100 meter. Entry point pertama adalah dari Dam PLTA Ubruk, sedang entry point ke dua dari desa Bojongkerta. Sedang finish di jembatan gantung Leuwilalai. Lama pengarungan sekitar 3 jam jika titik mulai dari DAM Ubruk, jika mulai dari Bojongkerta lama pengarungan sekitar 2 jam. Jeram terrbesar adalah jeram gigi dengan tingkat kesulitan Class IV.
Sungai Cimandiri (Class III) Terletak di daerah Sukabumi Jawa barat. Sungai yang berhulu di Gunung Gede Pangrango ini merentang sepanjang 8,6 km. Biasanya, jalur pengarungan yang ditempuh adalah antara jembatan Padabeunghar dan jembatan desa Cilalai, titik yang sama untuk mengakhiri pengarungan di Sungai Cicatih.
Sungai Cikandang (Class III – IV+) Air sungai Cikandang berasal dari Gunung Cikuray dan Papandayan yang bermuara di Samudra Hindia (laut selatan), terletak di wilayah selatan kabupaten Garut. Sungai ini masih sangat asri dan jauh dari polusi karena jauh dari daerah permukiman. Air sungai Cikandang relatif stabil baik dimusim kemarau ataupun musim hujan.
Sungai Cimanuk (Class III – IV+) Hulu sungai Cimanuk berasal dari Gunung Papandayan, melintasi 4 Kabupaten, yaitu Garut, Sumedang, Majalengka dan Cirebon. Sungai ini bermuara di laut Jawa dengan beberapa pilihan lokasi dan lama pengarungan. Beberapa entry point untuk pengarungan sungai ini antara lain: Jager – Leuwi Goong, Leuwi Goong – Sasak Besi, Sasak Besi – Limbangan, namun ada pula yang berakhir sampai ke Wado (kab. Majalengka) dengan lama pengarungan mencapai 3 Hari.
Sungai Cipeles (Class II – III) Terletak di Kab. Sumedang dan merupakan sungai yang baru untuk kegiatan arung jeram. Panjang lintasan yang biasa diarungi sejauh 10 Km dengan lama pengarungan 2 jam. Lokasi entry point sungai ini adalah Rumah Makan Sari Bumi dan finish di Bendungan Sentig.
Sungai Cikaso (Class III – IV) Hulu sungai Cikaso berada di daerah pegunungan di Sukabumi utara. Sedang muara sungai ini berada di pantai selatan di daerah Kecamatan Surade, Sukabumi Selatan. Panjang sungai yang sudah diarungi baru sekitar 24 km. Sungai ini mempunyai daya tarik tersendiri, karena di sepanjang aliran sungai banyak ditemui air terjun yang meluncur dari tebing-tebing sungai yang ditumbuhi lumut-lumut hijau.
Sungai Palayangan (Class III – IV) Air sungai Palayangan berasal dari Situ Cileunca yang terletak di Pangalengan, Kabupaten Bandung yang terkenal dengan kesejukannya. Sungai Palayangan memiliki gradien tinggi dengan arus yang cukup deras. Sungai ini dapat diarungi sepanjang tahun. Lebar sungai antara 5-10 meter dengan kelokkan tajam dan beberapa drop menyertainya.
Sungai Cianten (Class II – III) Terletak di Kabupaten Bogor. Hulu sungai berada dari hutan-hutan di kawasan Taman Nasional Halimun. Sungai Cianten merupakan anak sungai Cisadane. Aliran air sungai cukup stabil, karena di atas lokasi start Batu Beulah merupakan Dam yang berfungsi untuk PLTA.
Sungai Cisadane (Class II – III) Bagi pemula, sungai Cisadane merupakan pilihan yang tepat untuk berarung jeram. Letaknya tak jauh dari kota Bogor. Aliran air berasal dari dari kawasan hutan-hutan di Gunung Salak. Panjang sungai yang biasa diarungi adalah sepanjang 9 km dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.
Sungai Progo (Class II – V) Hulu sungai Progo berada di lembah diantara dua gunung, Sindoro dan Sumbing. Mengalir ke arah selatan, membelah dua propinsi, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Arusnya cukup deras dan sangat fluktuatif terutama pada musim hujan. Entry point dapat dilakukan dari beberapa tempat.
Sungai Elo (Class II – III) Sungai Elo terletak di Kabupaten Magelang dekat dengan Candi Mendut dan Candi Borobudur kira-kira 35 menit dari Jogjakarta. merupakan Anak sungai Progo yang berhulu di lereng barat gunung Merbabu. Airnya lebih jernih dibanding sungai Progo.
Sungai Serayu (Class III – IV) Sungai Serayu terletak di Kabupaten Wonosobo – Banjarnegara, Jawa Tengah kira-kira 2,5 jam perjalanan dari Jogjakarta dengan melewati lereng Gunung Sindoro-Sumbing yang menyajikan kesejukan dan panorama alam pengunungan.
Sungai Pekalen (Class III – IV) Terletak di Kab. Probolinggo – Jawa Timur, Sungai Pekalen atau biasa disebut Kali Pekalen Sampean bersumber dari gunung Gunung Argopuro (3.088 m). Sungai ini disebut-sebut sebagai sungai terbaik untuk kegiatan arung jeram di Jawa Timur. Kali Pekalen bersumber di tiga tempat, Sumberduren dan Ranusegaran, dan sumber di tapal batas Guyangan-Watupanjang.
Sungai Brantas (Class II – III) Sungai Brantas cukup menarik untuk penggemar arung jeram. Jeram yang terkenal disungai ini adalah jeram Suud. Titik awal pengarungan biasanya dimulai dari Gang Sembilan Gadang sampai ke daerah Dam Blobo atau daerah Karang Duren, Malang. Pengarungan memakan waktu sekitar 3 jam.
Sungai Maiting (Class III – IV) Terletak didaerah Makale, Sulawesi selatan. Titik entry point berada di desa Dende Ma´dong. Jeram pertama yang akan kita temui adalah jeram Sella. Tingginya sekitar dua meter dan jatuh dengan kemiringan 90 derajat. Dengan alur sempit dan terapit batu besar di kiri dan tebing terjal di kanan perahu.
Sungai Sadang (Class III – V) Sungai terbesar di Sulawesi Selatan, melintasi Tana Toraja dengan panjang mencapai 182 km ke arah barat. Sungai Sadang memiliki lebar rata-rata 80 meter dan mempunyai anak sungai sampai 294 jumlahnya. Pengarungan di sungai ini dilakukan dari daerah Buakayu dengan lama pengarungan 2 hari.
Sungai Bongka (Class III – V) Sungai terbesar di Sulawesi Utara dengan panjang mencapai 126 km, dan mempunyai anak sungai sejumlah 199 buah. Belum ada data lengkap tentang kegiatan arung jeram di sungai ini.
Sungai Lariang (Class III – V) Sungai paling besar di Sulawesi dengan panjang mencapai 255 km dan memiliki anak sungai sampai 637 buah jumlahnya. Luasnya mencapai 7.152 km persegi. Hingga saat ini masih dapat dihitung dengan jari, rombongan tim arung jeram yang pernah mencicipi nikmatnya jeram di sana.
Outbound training adalah bentuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka dengan pendekatan yang unik dan sederhana tetapi efektif karena pelatihan ini tidak sarat dengan teori-teori melainkan langsung diterapkan pada elemen-elemen yang mendasar yang bersifat sehari-hari, seperti saling percaya, saling memperhatikan serta sikap proaktif dan komunikatif. Alam Indonesia yang kaya menyediakan sumber belajar yang tidak akan pernah habis digali. Dimensi alam sebagai obyek pendidikan bisa menjadi laboratorium sesungguhnya dan tempat bermain yang mengasyikan dengan berbagai metodenya.

Paket Kami

Share This

Find Hotel